teaz is sweet hot chilli pepper











{Desember 12, 2009}   PENGUKURAN ANTROPOMETRI BERAT BADAN

PENGUKURAN ANTROPOMETRI BERAT BADAN

MATA KULIAH NUTRITIONAL ASSESSMENT

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2009

Oleh:

DWI RUSETIAWATI
HARIS FARIADI
MIKE AGUSTINA
NOOR ASIAH
RINA APRILIYA
TITIS INDRAHAYU
YESINTA EVARIANA

PENGUKURAN ANTROPOMETRI

Pertumbuhan dipengaruhi oleh determinan biologis yang meliputi jenis kelamin, lingkungan di dalam rahim, jumlah kelahiran, berat lahir pada kehamilan tunggal atau majemuk, ukuran orang tua, dan konstitusi genetis, serta faktor lingkungan (termasuk iklim, musim dan keadaan sosial-ekonomi). Pengaruh lingkungan, terutama gizi, lebih penting ketimbang latar belakang genetis atau faktor biologis lain, terutama pada masa pertumbuhan. Ukuran tubuh tertentu dapat memberikan keterangan mengenai jenis malnutrisi.

Pada masyarakat, cara pengukuran status gizi yang paling sering digunakan adalah antropometri gizi. Dewasa ini dalam program gizi masyarakat, pemantauan status gizi anak balita menggunakan metode antropometri, sebagai cara untuk menilai status gizi. Disamping itu pula dalam kegiatan penapisan status gizi masyarakat selalu menggunakan metode tersebut.

Parameter yang dianjurkan oleh WHO untuk diukur pada survei gizi dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 1. Parameter yang Dianjurkan WHO untuk diukur dalam Survei Gizi

Dikutip dari ”Measuring Change in Nutritional Status: Guidelines for Assessing The Nutritional Impact of Supplementary Feeding Programmes fos Vulnerable Groups”, WHO 1993

Usia Pengamatan di Lapangan Pengamatan Lebih Rinci
0 – 1 tahun Berat dan panjang badan. Panjang batang badan, lingkar kepala dan dada, diameter krista iliaka, lipat kulit dada, triseps dan sub-skapula.
1 – 5 tahun Berat dan panjang badan (sampai 2 tahun), tinggi badan ( di atas 2 tahun), lipat kulit biseps dan triseps, lingkar lengan. Panjang batang badan (2 tahun), tinggi duduk (di atas 2 tahun), lingkar kepala dan dada (inspirasi setengah), diameter bikristal, lipat kulit dada dan sub-skapula, lingkar betis, rontgen postero-anterior tangan dan kaki.
5 – 20 tahun Berat dan tinggi badan, lipat kulit triseps. Tinggi duduk, diameter bikristal, diameter biakromial, lipat kulit di tempat lain, lingkar lengan dan betis, rontgen postero-anterior tangan dan kaki.
> 20 tahun Berat dan tinggi badan, lipat kulit triseps. Lipat kulit di tempat lain, lingkar lengan dan betis.
  1. A. Prinsip Antropometri

Antropometri berasal dari kata anthropos dan metros. Anthropos artinya tubuh dan metros artinya ukuran. Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Pengertian dari sudut pandang gizi, Jellife (1966) mengungkapkan bahwa:

“Nutritional anthropometry is measurement of the variations of the physical dimensions and the gross composition of the human body at different age levels and degree of nutrition”.

Dari definisi tersebut diatas dapat ditarik pengertian bahwa antropometri gizi adalah berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Berbagai jenis ukuran tubuh antara lain: berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas dan tebal lemak di bawah kulit.

Antropometri sangat umum digunakan untuk mengukur status gizi dari berbagai ketidakseimbangan antara asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh.

  1. B. Metode Umum Antropometri

Pengukuran antropometri ada 2 tipe yaitu pertumbuhan linear dan pertumbuhan massa jaringan. Metode pengukuran untuk pertumbuhan linear adalah dengan menggunakan tinggi badan, lingkar dada, dan lingkar kepala. Sedangkan massa jaringan dengan menggunakan metode berat badan, LILA, dan tebal lemak bawah kulit. Penilaian pertumbuhan merupakan komponen esensial dalam surveilan kesehatan anak karena hampir setiap masalah yang berkaitan dengan fisiologi, interpersonal, dan domain sosial dapat memberikan efek yang buruk pada pertumbuhan anak. Alat yang penting untuk penilaian pertumbuhan adalah kurva pertumbuhan.

Dari sudut pandang antropometri, pertumbuhan linear dan pertumbuhan massa jaringan memiliki arti yang berbeda. Pertumbuhan linear menggambarkan status gizi yang dihubungkan pada saat lampau dan pertumbuhan massa jaringan menggambarkan status gizi yang dihubungakn pada saat sekarang atau saat pengukuran.

  1. Pertumbuhan Linear

Bentuk dari ukuran linear adalah ukuran yang berhubungan dengan panjang. Contoh ukuran linear adalah panjang badan, lingkar dada, dan lingkar kepala. Ukuran linear yang rendah biasanya menunjukkan keadaan gizi yang kurang akibat kekurangan energi dan protein yang diderita waktu lampau. Ukuran linear yang paling sering digunakan adalah tinggi atau panjang badan.

  1. Pertumbuhan Massa Jaringan

Bentuk dan ukuran massa jaringan adalah massa tubuh. Contoh ukuran massa jaringan adalah berat badan, lingkar lengan atas (LLA), dan tebal lemak bawah kulit. Apabila ukuran ini rendah atau kecil, menunjukkan keadaan gizi kurang akibat kekurangan energi dan protein yang diderita pada waktu pengukuran dilakukan. Ukuran massa jaringan yang paling sering digunakan adalah berat badan.

Tabel 2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan (sumber: Jellife DB, 1989. Community Nutritional Assessment. Oxford University Press, hlm. 57).

Faktor Contoh
I Internal
a. Genetik - Individu (keluarga)
- Ras/lingkungan intrauterin (ketidakcukupan plasenta)
b. Obstetrik - BBLR
- Lahir kembar
c. Seks - Laki-laki lebih panjang dan lebih berat
II Eksternal
a. Gizi - Fetus (diet maternal; protein, energi dan iodium)
- Bayi (ASI dan susu botol)
- Anak (protein, energi, iodium, zink, vitamin D dan asam folat)
b. Obat-obatan - Alkohol, tembakau dan kecanduan obat-obat lainnya
- Altitude
c. Lingkungan - Iklim
- Daerah kumuh
d. Penyakit
1. Endokrin - Hormon pertumbuhan (hipofisis)
2. Infeksi - Bakteri akut dan kronis, virus dan cacing
3. Kongetinal - Anemia sel sabit, kelainan metabolis sejak lahir
4. Penyakit kronis - Kanker, malabsorpsi usus halus, jantung, ginjal dan hati
5. Psikologis - Kemunduran mental/emosi
  1. C. Kegunaan Antropometri

Penggunaan antropometri sebagai alat ukur status gizi semakin luas digunakan dalam program-program gizi antara lain:

  1. Kualitas sumber daya manusia.
  2. Penilaian status gizi.
  3. Pemantauan pertumbuhan anak.
  4. Survei nasional vitamin A.
  5. Survei sosial ekonomi nasional.
  6. Pemantauan status gizi.
  7. Pengukuran tinggi badan anak baru masuk sekolah.
  8. Kegiatan penapisan.
  9. Kegiatan di klinik.

10.  Swa uji risiko KEK.

11.  KMS ibu hamil.

12.  Pemantauan status gizi orang dewasa.

Kegunaan pengukuran status gizi dengan metode antropometri adalah sebagai berikut:

  1. Metode ini relatif mudah dilakukan.
  2. Non-invasive dan tidak membahayakan.
  3. Pada beberapa situasi, sebagian besar dapat dikerjakan dengan mudah (terutama untuk mengevaluasi hasil intervensi yang dirancang untuk meningkatkan faktor status gizi, kesehatan, ekonomi dan lingkungan).
  4. Salah satu indikator yang baik untuk kesejahteraan manusia dan digunakan untuk memonitor dua masalah gizi utama yaitu kurang energi protein (KEP) dan obesitas.
  5. Umumnya dapat mengidentifikasi status gizi sedang, kurang dan gizi buruk, karena sudah ada ambang batas yang jelas.
  6. Metode antropometri gizi dapat mengevaluasi perubahan status gizi pada periode tertentu, atau dari satu generasi ke generasi berikutnya.
  7. Metode antropometri gizi dapat digunakan untuk penapisan kelompok yang rawan terhadap gizi.

Beberapa syarat yang mendasari penggunaan antropometri adalah:

  1. Alatnya mudah didapat dan digunakan, seperti dacin, pita lingkar lengan atas, mikrotoa, dan alat pengukur panjang bayi yang dapat dibuat sendiri di rumah.
  2. Pengukuran dapat dilakukan berulang-ulang dengan mudah dan objektif. Contohnya, apabila terjadi kesalahan pada pengukuran lingkar lengan atas pada anak balita, maka dapat dilakukan pengukuran kembali tanpa harus persiapan alat yang rumit. Berbeda dengan pengukuran status gizi dengan metode biokimia, apabila terjadi kesalahan maka harus mempersiapkan alat dan bahan terlebih dahulu yang relatif mahal dan rumit.
  3. Pengukuran bukan hanya dilakukan dengan tenaga khusus profesional, juga oleh tenaga lain setelah dilatih untuk itu.
  4. Biaya relatif murah, karena alat mudah didapat dan tidak memerlukan bahan-bahan lainnya.
  5. Hasilnya mudah disimpulkan, karena mempunyai ambang batas (cut off points) dan baku rujukan yang sudah pasti.
  6. Secara ilmiah diakui kebenarannya. Hampir semua negara menggunakan antropometri sebagai metode untuk mengukur status gizi masyarakat, khususnya untuk penapisan status gizi. Hal ini dikarenakan antropometri diakui kebenarannya secara ilmiah.

  1. D. Kelebihan Antropometri

Kelebihan pengukuran status gizi dengan metode antropometri adalah sebagai berikut:

  1. Prosedurnya sederhana, aman, non-invasive dan metode yang digunakan jelas.

Pengukuran antropometri dapat digunakan tidak hanya pada pasien individu tapi juga dapat mencakup dalam jumlah yang banyak.

Contoh : pengukuran TB dan BB pada balita.

  1. Metode antropometri menghasilkan ketepatan dan keakuratan dengan penggunaan tehnik yang standar.
  1. Peralatannya tidak mahal dan terjangkau.

Peralatannya bersifat mudah dipindahkan (mudah dibawa), tidak mudah rusak, dan mudah untuk membuat atau membelinya. Memang ada alat antropometri yang mahal dan harus diimpor dari luar negeri, tetapi penggunaan alat itu hanya tertentu saja seperti ”Skin Fold Caliper” untuk mengukur tebal lemak bawah kulit.

Contoh : penggunaan dacin dapat digunakan dengan mudah oleh kader dan merupakan alat pengukuran berat badan yang dapat dibuat sendiri dan tidak mahal untuk membelinya.

  1. Mudah digunakan dan relatif tidak membutuhkan tenaga ahli (unskilled personnel).

Orang yang tidak memiliki ketrampilan dapat menggunakan sesuai prosedur pengukuran dan cukup dilakukan oleh tenaga yang sudah dilatih dalam waktu singkat dapat melakukan pengukuran antropometri. Kader gizi (posyandu) tidak perlu seorang ahli, tetapi dengan pelatihan singkat ia dapat melaksanakan kegiatannya secara rutin.

Contoh : pengukuran BB dengan timbangan injak.

  1. Bersifat retrospective.

Informasi berkaitan dengan riwayat panjang keadaan gizi dan kesulitan untuk mendapatkannya dengan kesamaan kepercayaan jika menggunakan tehnik yang lainnya. Pengukuran antropometri menggambarkan keadaan gizi pada masa lampau dan jangka waktu yang lama. Pengukurannya juga dapat dilakukan berulang-ulang oleh satu atau lebih pengukur jika terjadi kesalahan dalam pengukuran.

Contoh : pengukuran TB, lingkar dada, dan lingkar kepala.

  1. Pengukuran status gizi.

Dapat mengidentifikasi overnutrition dan undernutrition (mild, moderate and severe state of malnutrition), karena sudah ada ambang batas yang jelas.

Contoh : dengan pengukuran TB dan BB dapat digunakan sebagai parameter pengukuran status gizi.

  1. Perubahan status gizi dapat diamati.

Dapat mengevaluasi perubahan status gizi pada periode tertentu, atau dari satu generasi ke generasi berikutnya., fenomena tersebut dikenal sebagai trend umum dari antropometri.

Contoh : dengan pengukuran LILA seorang ibu hamil yang diketahui KEK akan berisiko melahirkan bayi dengan BBLR.

  1. Digunakan sebagai tes skrinning.

Pengukuran antropometri digunakan untuk mengidentifikasi individu yang memiliki risiko tinggi menderita undernutrition atau overnutrition.

Contoh : pengukuran BB dan TB.

  1. E. Kelemahan Antropometri

Metode penentuan status gizi secara antropometri, memiliki kelemahan-kelemahan yaitu sebagai berikut:

  1. Tidak sensitive.

Metode ini tidak dapat mendeteksi status gizi dalam waktu singkat (hari atau minggu). Disamping itu tidak dapat membedakan kekurangan zat gizi tertentu seperti Zink dan Fe.

  1. Faktor di luar gizi (penyakit, genetik, dan penurunan penggunaan energi) dapat menurunkan spesifikasi dan sensitivitas pengukuran antropometri.
  2. Kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran dapat mempengaruhi presisi, akurasi, dan validitas pengukuran antropometri gizi.
  3. Kesalahan ini terjadi karena:
  4. a.      Pengukuran.
  5. b.      Perubahan hasil pengukuran baik fisik maupun komposisi jaringan.
  6. c.      Analisis dan asumsi yang keliru.
    1. Sumber kesalahan, biasanya berhubungan dengan:
    2. a.      Latihan petugas yang tidak cukup.
    3. b.      Kesalahan alat atau alat yang tidak ditera.
    4. c.      Kesulitan pengukuran.

F.   Kesalahan Dalam Antropometri

Kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran dapat mempengaruhi presisi, akurasi, dan validitas pengukuran antropometri gizi. Ada 3 penyebab utama kesalahan yang signifikan yaitu:

  1. Kesalahan pengukuran.
  2. Perubahan hasil pengukuran baik fisik maupun komposisi jaringan.
  3. Analisis dan asumsi yang keliru.

Sedangkan kesalahan lainnya yang umum terjadi dalam pengukuran antropometri antara lain:

  1. a.         Pada waktu melakukan pengukuran tinggi badan tanpa memperhatikan posisi orang yang diukur, misalnya belakang kepala, punggung, pinggul, dan tumit harus menempel di dinding. Sikapnya harus dalam posisi siap sempurna. Disamping itu pula kesalahan juga terjadi apabila petugas tidak memperhatikan situasi pada saat anak diukur. Contohnya adalah anak menggunakan sandal atau sepatu.
  2. b.         Pada waktu penimbangan berat badan, timbangan belum di titik nol, dacin belum dalam keadaan seimbang dan dacin tidak berdiri tegak lurus.
  3. c.         Kesalahan pada peralatan. Peralatan yang digunakan untuk mengukur berat badan adalah dacin dengan kapasitas 20-25 kg dan ketelitian 0,1 kg. Untuk mengukur panjang badan, alat pengukur panjang badan berkapasitas 110 cm dengan skala 0,1 cm. Tinggi badan dapat diukur dengan mikrotoa berkapasitas 200 cm dengan ketelitian 0,1 cm. Lingkar lengan atas dapat diukur dengan pita LLA yang berkapasitas 33 cm dengan skala 0,1 cm.
  4. d.         Kesalahan yang disebabkan oleh tenaga pengukur. Kesalahan ini dapat terjadi karena petugas pengumpul data kurang hati-hati atau belum mendapat pelatihan yang memadai. Kesalahan-kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran sering disebut Measurement Error.

Random dan systematic error juga terjadi pada pengukuran antropometri gizi.

  1. 1. Random Error

Random error membatasi ketelitian atau beberapa pengukuran ulang yang memberikan nilai yang tidak sama. Random error disebabkan oleh perbedaan pengukuran dan proses pencatatan. Contoh: kesalahan pengukuran pada pengukuran tebal lipatan kulit dapat menyebabkan perbedaan durasi dan tingkat penekanan calipers selama pengukuran.

Cara meminimalisasi random error adalah dengan mengadakan pelatihan petugas pengukur untuk menggunakan tehnik-tehnik standar dan ketelitian, ketepatan, dan mengkalibrasi peralatan. Selanjutnya, ketelitian (dan keakuratan) dari masing-masing tehnik pengukuran sebaiknya ditetapkan sebagai prioritas untuk meningkatkan ketelitian pengulangan untuk masing-masing individu.

Ketelitian dalam metode pengukuran dapat dikaji dengan menghitung :

  • Tehnical Error Of The Measurement (TEM)

TEM =

Keterangan :

D = selisih dari dua pengukuran

N = jumlah subjek

Jika lebih dari dua pengukuran, maka :

Keterangan :

N = jumlah subjek

K = jumlah determinan dari masing-masing variabel

Mn = sejumlah n replikasi pengukuran, dimana n = 1 sampai K

  • Percentage Technical Error (%TEM)

%TEM = TEM/rata-rata x 100%

  • Coeffisient of Reliability (R)

R = 1-((TEM)2/s2)

Keterangan :

s = standar deviasi subjek

Contoh : pada pengukuran skinfold, kesalahan pengukur cenderung lebih besar sehingga lebih dipilih menggunakan satu orang pengukur untuk melakukan pengukuran. Karena pengukuran skinfold dikenal tidak teliti dibandingkan pengukuran BB, TB meskipun telah digunakan tehnik standar dan kalibrasi alat.

  1. 2. Systematic Error atau Bias

Systematic error berpengaruh pada akurasi atau tingkat penyimpangan pengukuran dari nilai yang sebenarnya. Biasanya systematic error disebabkan oleh bias alat. Contohnya bukti perbedaan pada pengukuran skinfold menunjukkan bahwa pada orang yang sama dengan menggunakan alat yang berbeda mungkin menyebabkan timbulnya perbedaan penekanan dari kuatnya tekanan dan luas area dari masing-masing kaliper.

Untuk mengeliminasi systematic error adalah dengan memilih desain yang sesuai dan berhati-hati dalam memilih peralatan dan metode yang digunakan.

G.  Cara Meminimalisasi Error Secara Umum

Secara garis besar usaha untuk mengatasi kesalahan pengukuran, baik dalam mengukur sebab dan akibat serta dampak dari suatu tindakan dapat dikelompokan sebagai berikut :

  1. Memilih ukuran yang sesuai dengan apa yang ingin diukur. Misalnya mengukur tinggi badan menggunakan mikrotoa, dan tidak menggunakan alat ukur lain yang bukan diperuntukkan untuk mengukur tinggi badan.
  2. Membuat prosedur baku pengukuran yang harus ditaati oleh seluruh pengumpul data. Petugas pengumpul data harus mengerti tehnik, urutan dan langkah-langkah dalam pengumpulan data.
  3. Pelatihan dan refreshing petugas. Pelatihan petugas harus dilakukan dengan sebaik-baiknya, baik ditinjau dari segi waktu maupun materi pelatihan. Materi pelatihan sebaiknya menekankan pada ketelitian pembacaan dan pencatatan hasil. Mengingat petugas akan melakukan pengukuran, maka dalam pelatihan harus dilakukan praktek terpimpin oleh petugas profesional dalam bidangnya. Apabila memungkinkan dilaksanakan pelatihan secara periodik.
  4. Kalibrasi alat ukur secara berkala. Alat timbang dan alat lainnya harus selalu ditera dalam kurun waktu tertentu. Apabila ada alat yang rusak, sebaiknya tidak digunakan lagi.
  5. Pengukuran silang antar pengamat. Kegiatan ini perlu dilakukan untuk mendapatkan presisi dan akurasi yang baik.
  6. Perekaman hasil langsung setelah pengukuran lalu hasilnya diteliti oleh orang kedua.

DAFTAR PUSTAKA

Arisman. 2004. Gizi dalam Daur Kehidupan. EGC: Jakarta.

Supariasa, I Dewa Nyoman, dkk. 2001. Penilaian Status Gizi. EGC: Jakarta.

Gibson, SR. 1990. Principless of Nutritional Assessment. Oxford University Press: New York.

Gibson, SR. 1993. Nutritional Assessment A Laboratory Manual. Oxford University Press: New York.

Famida, Umi, dkk. 2007. Handbook Nutritional Assessment. Universitas Indonesia Press: Jakarta.



Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: