teaz is sweet hot chilli pepper











{Desember 12, 2009}   PENGUKURAN ANTROPOMETRI BERAT BADAN

PENGUKURAN ANTROPOMETRI BERAT BADAN

MATA KULIAH NUTRITIONAL ASSESSMENT

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2009

Oleh:

DWI RUSETIAWATI
HARIS FARIADI
MIKE AGUSTINA
NOOR ASIAH
RINA APRILIYA
TITIS INDRAHAYU
YESINTA EVARIANA

PENGUKURAN ANTROPOMETRI

Pertumbuhan dipengaruhi oleh determinan biologis yang meliputi jenis kelamin, lingkungan di dalam rahim, jumlah kelahiran, berat lahir pada kehamilan tunggal atau majemuk, ukuran orang tua, dan konstitusi genetis, serta faktor lingkungan (termasuk iklim, musim dan keadaan sosial-ekonomi). Pengaruh lingkungan, terutama gizi, lebih penting ketimbang latar belakang genetis atau faktor biologis lain, terutama pada masa pertumbuhan. Ukuran tubuh tertentu dapat memberikan keterangan mengenai jenis malnutrisi.

Pada masyarakat, cara pengukuran status gizi yang paling sering digunakan adalah antropometri gizi. Dewasa ini dalam program gizi masyarakat, pemantauan status gizi anak balita menggunakan metode antropometri, sebagai cara untuk menilai status gizi. Disamping itu pula dalam kegiatan penapisan status gizi masyarakat selalu menggunakan metode tersebut.

Parameter yang dianjurkan oleh WHO untuk diukur pada survei gizi dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 1. Parameter yang Dianjurkan WHO untuk diukur dalam Survei Gizi

Dikutip dari ”Measuring Change in Nutritional Status: Guidelines for Assessing The Nutritional Impact of Supplementary Feeding Programmes fos Vulnerable Groups”, WHO 1993

Usia Pengamatan di Lapangan Pengamatan Lebih Rinci
0 – 1 tahun Berat dan panjang badan. Panjang batang badan, lingkar kepala dan dada, diameter krista iliaka, lipat kulit dada, triseps dan sub-skapula.
1 – 5 tahun Berat dan panjang badan (sampai 2 tahun), tinggi badan ( di atas 2 tahun), lipat kulit biseps dan triseps, lingkar lengan. Panjang batang badan (2 tahun), tinggi duduk (di atas 2 tahun), lingkar kepala dan dada (inspirasi setengah), diameter bikristal, lipat kulit dada dan sub-skapula, lingkar betis, rontgen postero-anterior tangan dan kaki.
5 – 20 tahun Berat dan tinggi badan, lipat kulit triseps. Tinggi duduk, diameter bikristal, diameter biakromial, lipat kulit di tempat lain, lingkar lengan dan betis, rontgen postero-anterior tangan dan kaki.
> 20 tahun Berat dan tinggi badan, lipat kulit triseps. Lipat kulit di tempat lain, lingkar lengan dan betis.
  1. A. Prinsip Antropometri

Antropometri berasal dari kata anthropos dan metros. Anthropos artinya tubuh dan metros artinya ukuran. Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Pengertian dari sudut pandang gizi, Jellife (1966) mengungkapkan bahwa:

“Nutritional anthropometry is measurement of the variations of the physical dimensions and the gross composition of the human body at different age levels and degree of nutrition”.

Dari definisi tersebut diatas dapat ditarik pengertian bahwa antropometri gizi adalah berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Berbagai jenis ukuran tubuh antara lain: berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas dan tebal lemak di bawah kulit.

Antropometri sangat umum digunakan untuk mengukur status gizi dari berbagai ketidakseimbangan antara asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh.

  1. B. Metode Umum Antropometri

Pengukuran antropometri ada 2 tipe yaitu pertumbuhan linear dan pertumbuhan massa jaringan. Metode pengukuran untuk pertumbuhan linear adalah dengan menggunakan tinggi badan, lingkar dada, dan lingkar kepala. Sedangkan massa jaringan dengan menggunakan metode berat badan, LILA, dan tebal lemak bawah kulit. Penilaian pertumbuhan merupakan komponen esensial dalam surveilan kesehatan anak karena hampir setiap masalah yang berkaitan dengan fisiologi, interpersonal, dan domain sosial dapat memberikan efek yang buruk pada pertumbuhan anak. Alat yang penting untuk penilaian pertumbuhan adalah kurva pertumbuhan.

Dari sudut pandang antropometri, pertumbuhan linear dan pertumbuhan massa jaringan memiliki arti yang berbeda. Pertumbuhan linear menggambarkan status gizi yang dihubungkan pada saat lampau dan pertumbuhan massa jaringan menggambarkan status gizi yang dihubungakn pada saat sekarang atau saat pengukuran.

  1. Pertumbuhan Linear

Bentuk dari ukuran linear adalah ukuran yang berhubungan dengan panjang. Contoh ukuran linear adalah panjang badan, lingkar dada, dan lingkar kepala. Ukuran linear yang rendah biasanya menunjukkan keadaan gizi yang kurang akibat kekurangan energi dan protein yang diderita waktu lampau. Ukuran linear yang paling sering digunakan adalah tinggi atau panjang badan.

  1. Pertumbuhan Massa Jaringan

Bentuk dan ukuran massa jaringan adalah massa tubuh. Contoh ukuran massa jaringan adalah berat badan, lingkar lengan atas (LLA), dan tebal lemak bawah kulit. Apabila ukuran ini rendah atau kecil, menunjukkan keadaan gizi kurang akibat kekurangan energi dan protein yang diderita pada waktu pengukuran dilakukan. Ukuran massa jaringan yang paling sering digunakan adalah berat badan.

Tabel 2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan (sumber: Jellife DB, 1989. Community Nutritional Assessment. Oxford University Press, hlm. 57).

Faktor Contoh
I Internal
a. Genetik – Individu (keluarga)
– Ras/lingkungan intrauterin (ketidakcukupan plasenta)
b. Obstetrik – BBLR
– Lahir kembar
c. Seks – Laki-laki lebih panjang dan lebih berat
II Eksternal
a. Gizi – Fetus (diet maternal; protein, energi dan iodium)
– Bayi (ASI dan susu botol)
– Anak (protein, energi, iodium, zink, vitamin D dan asam folat)
b. Obat-obatan – Alkohol, tembakau dan kecanduan obat-obat lainnya
– Altitude
c. Lingkungan – Iklim
– Daerah kumuh
d. Penyakit
1. Endokrin – Hormon pertumbuhan (hipofisis)
2. Infeksi – Bakteri akut dan kronis, virus dan cacing
3. Kongetinal – Anemia sel sabit, kelainan metabolis sejak lahir
4. Penyakit kronis – Kanker, malabsorpsi usus halus, jantung, ginjal dan hati
5. Psikologis – Kemunduran mental/emosi
  1. C. Kegunaan Antropometri

Penggunaan antropometri sebagai alat ukur status gizi semakin luas digunakan dalam program-program gizi antara lain:

  1. Kualitas sumber daya manusia.
  2. Penilaian status gizi.
  3. Pemantauan pertumbuhan anak.
  4. Survei nasional vitamin A.
  5. Survei sosial ekonomi nasional.
  6. Pemantauan status gizi.
  7. Pengukuran tinggi badan anak baru masuk sekolah.
  8. Kegiatan penapisan.
  9. Kegiatan di klinik.

10.  Swa uji risiko KEK.

11.  KMS ibu hamil.

12.  Pemantauan status gizi orang dewasa.

Kegunaan pengukuran status gizi dengan metode antropometri adalah sebagai berikut:

  1. Metode ini relatif mudah dilakukan.
  2. Non-invasive dan tidak membahayakan.
  3. Pada beberapa situasi, sebagian besar dapat dikerjakan dengan mudah (terutama untuk mengevaluasi hasil intervensi yang dirancang untuk meningkatkan faktor status gizi, kesehatan, ekonomi dan lingkungan).
  4. Salah satu indikator yang baik untuk kesejahteraan manusia dan digunakan untuk memonitor dua masalah gizi utama yaitu kurang energi protein (KEP) dan obesitas.
  5. Umumnya dapat mengidentifikasi status gizi sedang, kurang dan gizi buruk, karena sudah ada ambang batas yang jelas.
  6. Metode antropometri gizi dapat mengevaluasi perubahan status gizi pada periode tertentu, atau dari satu generasi ke generasi berikutnya.
  7. Metode antropometri gizi dapat digunakan untuk penapisan kelompok yang rawan terhadap gizi.

Beberapa syarat yang mendasari penggunaan antropometri adalah:

  1. Alatnya mudah didapat dan digunakan, seperti dacin, pita lingkar lengan atas, mikrotoa, dan alat pengukur panjang bayi yang dapat dibuat sendiri di rumah.
  2. Pengukuran dapat dilakukan berulang-ulang dengan mudah dan objektif. Contohnya, apabila terjadi kesalahan pada pengukuran lingkar lengan atas pada anak balita, maka dapat dilakukan pengukuran kembali tanpa harus persiapan alat yang rumit. Berbeda dengan pengukuran status gizi dengan metode biokimia, apabila terjadi kesalahan maka harus mempersiapkan alat dan bahan terlebih dahulu yang relatif mahal dan rumit.
  3. Pengukuran bukan hanya dilakukan dengan tenaga khusus profesional, juga oleh tenaga lain setelah dilatih untuk itu.
  4. Biaya relatif murah, karena alat mudah didapat dan tidak memerlukan bahan-bahan lainnya.
  5. Hasilnya mudah disimpulkan, karena mempunyai ambang batas (cut off points) dan baku rujukan yang sudah pasti.
  6. Secara ilmiah diakui kebenarannya. Hampir semua negara menggunakan antropometri sebagai metode untuk mengukur status gizi masyarakat, khususnya untuk penapisan status gizi. Hal ini dikarenakan antropometri diakui kebenarannya secara ilmiah.

  1. D. Kelebihan Antropometri

Kelebihan pengukuran status gizi dengan metode antropometri adalah sebagai berikut:

  1. Prosedurnya sederhana, aman, non-invasive dan metode yang digunakan jelas.

Pengukuran antropometri dapat digunakan tidak hanya pada pasien individu tapi juga dapat mencakup dalam jumlah yang banyak.

Contoh : pengukuran TB dan BB pada balita.

  1. Metode antropometri menghasilkan ketepatan dan keakuratan dengan penggunaan tehnik yang standar.
  1. Peralatannya tidak mahal dan terjangkau.

Peralatannya bersifat mudah dipindahkan (mudah dibawa), tidak mudah rusak, dan mudah untuk membuat atau membelinya. Memang ada alat antropometri yang mahal dan harus diimpor dari luar negeri, tetapi penggunaan alat itu hanya tertentu saja seperti ”Skin Fold Caliper” untuk mengukur tebal lemak bawah kulit.

Contoh : penggunaan dacin dapat digunakan dengan mudah oleh kader dan merupakan alat pengukuran berat badan yang dapat dibuat sendiri dan tidak mahal untuk membelinya.

  1. Mudah digunakan dan relatif tidak membutuhkan tenaga ahli (unskilled personnel).

Orang yang tidak memiliki ketrampilan dapat menggunakan sesuai prosedur pengukuran dan cukup dilakukan oleh tenaga yang sudah dilatih dalam waktu singkat dapat melakukan pengukuran antropometri. Kader gizi (posyandu) tidak perlu seorang ahli, tetapi dengan pelatihan singkat ia dapat melaksanakan kegiatannya secara rutin.

Contoh : pengukuran BB dengan timbangan injak.

  1. Bersifat retrospective.

Informasi berkaitan dengan riwayat panjang keadaan gizi dan kesulitan untuk mendapatkannya dengan kesamaan kepercayaan jika menggunakan tehnik yang lainnya. Pengukuran antropometri menggambarkan keadaan gizi pada masa lampau dan jangka waktu yang lama. Pengukurannya juga dapat dilakukan berulang-ulang oleh satu atau lebih pengukur jika terjadi kesalahan dalam pengukuran.

Contoh : pengukuran TB, lingkar dada, dan lingkar kepala.

  1. Pengukuran status gizi.

Dapat mengidentifikasi overnutrition dan undernutrition (mild, moderate and severe state of malnutrition), karena sudah ada ambang batas yang jelas.

Contoh : dengan pengukuran TB dan BB dapat digunakan sebagai parameter pengukuran status gizi.

  1. Perubahan status gizi dapat diamati.

Dapat mengevaluasi perubahan status gizi pada periode tertentu, atau dari satu generasi ke generasi berikutnya., fenomena tersebut dikenal sebagai trend umum dari antropometri.

Contoh : dengan pengukuran LILA seorang ibu hamil yang diketahui KEK akan berisiko melahirkan bayi dengan BBLR.

  1. Digunakan sebagai tes skrinning.

Pengukuran antropometri digunakan untuk mengidentifikasi individu yang memiliki risiko tinggi menderita undernutrition atau overnutrition.

Contoh : pengukuran BB dan TB.

  1. E. Kelemahan Antropometri

Metode penentuan status gizi secara antropometri, memiliki kelemahan-kelemahan yaitu sebagai berikut:

  1. Tidak sensitive.

Metode ini tidak dapat mendeteksi status gizi dalam waktu singkat (hari atau minggu). Disamping itu tidak dapat membedakan kekurangan zat gizi tertentu seperti Zink dan Fe.

  1. Faktor di luar gizi (penyakit, genetik, dan penurunan penggunaan energi) dapat menurunkan spesifikasi dan sensitivitas pengukuran antropometri.
  2. Kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran dapat mempengaruhi presisi, akurasi, dan validitas pengukuran antropometri gizi.
  3. Kesalahan ini terjadi karena:
  4. a.      Pengukuran.
  5. b.      Perubahan hasil pengukuran baik fisik maupun komposisi jaringan.
  6. c.      Analisis dan asumsi yang keliru.
    1. Sumber kesalahan, biasanya berhubungan dengan:
    2. a.      Latihan petugas yang tidak cukup.
    3. b.      Kesalahan alat atau alat yang tidak ditera.
    4. c.      Kesulitan pengukuran.

F.   Kesalahan Dalam Antropometri

Kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran dapat mempengaruhi presisi, akurasi, dan validitas pengukuran antropometri gizi. Ada 3 penyebab utama kesalahan yang signifikan yaitu:

  1. Kesalahan pengukuran.
  2. Perubahan hasil pengukuran baik fisik maupun komposisi jaringan.
  3. Analisis dan asumsi yang keliru.

Sedangkan kesalahan lainnya yang umum terjadi dalam pengukuran antropometri antara lain:

  1. a.         Pada waktu melakukan pengukuran tinggi badan tanpa memperhatikan posisi orang yang diukur, misalnya belakang kepala, punggung, pinggul, dan tumit harus menempel di dinding. Sikapnya harus dalam posisi siap sempurna. Disamping itu pula kesalahan juga terjadi apabila petugas tidak memperhatikan situasi pada saat anak diukur. Contohnya adalah anak menggunakan sandal atau sepatu.
  2. b.         Pada waktu penimbangan berat badan, timbangan belum di titik nol, dacin belum dalam keadaan seimbang dan dacin tidak berdiri tegak lurus.
  3. c.         Kesalahan pada peralatan. Peralatan yang digunakan untuk mengukur berat badan adalah dacin dengan kapasitas 20-25 kg dan ketelitian 0,1 kg. Untuk mengukur panjang badan, alat pengukur panjang badan berkapasitas 110 cm dengan skala 0,1 cm. Tinggi badan dapat diukur dengan mikrotoa berkapasitas 200 cm dengan ketelitian 0,1 cm. Lingkar lengan atas dapat diukur dengan pita LLA yang berkapasitas 33 cm dengan skala 0,1 cm.
  4. d.         Kesalahan yang disebabkan oleh tenaga pengukur. Kesalahan ini dapat terjadi karena petugas pengumpul data kurang hati-hati atau belum mendapat pelatihan yang memadai. Kesalahan-kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran sering disebut Measurement Error.

Random dan systematic error juga terjadi pada pengukuran antropometri gizi.

  1. 1. Random Error

Random error membatasi ketelitian atau beberapa pengukuran ulang yang memberikan nilai yang tidak sama. Random error disebabkan oleh perbedaan pengukuran dan proses pencatatan. Contoh: kesalahan pengukuran pada pengukuran tebal lipatan kulit dapat menyebabkan perbedaan durasi dan tingkat penekanan calipers selama pengukuran.

Cara meminimalisasi random error adalah dengan mengadakan pelatihan petugas pengukur untuk menggunakan tehnik-tehnik standar dan ketelitian, ketepatan, dan mengkalibrasi peralatan. Selanjutnya, ketelitian (dan keakuratan) dari masing-masing tehnik pengukuran sebaiknya ditetapkan sebagai prioritas untuk meningkatkan ketelitian pengulangan untuk masing-masing individu.

Ketelitian dalam metode pengukuran dapat dikaji dengan menghitung :

  • Tehnical Error Of The Measurement (TEM)

TEM =

Keterangan :

D = selisih dari dua pengukuran

N = jumlah subjek

Jika lebih dari dua pengukuran, maka :

Keterangan :

N = jumlah subjek

K = jumlah determinan dari masing-masing variabel

Mn = sejumlah n replikasi pengukuran, dimana n = 1 sampai K

  • Percentage Technical Error (%TEM)

%TEM = TEM/rata-rata x 100%

  • Coeffisient of Reliability (R)

R = 1-((TEM)2/s2)

Keterangan :

s = standar deviasi subjek

Contoh : pada pengukuran skinfold, kesalahan pengukur cenderung lebih besar sehingga lebih dipilih menggunakan satu orang pengukur untuk melakukan pengukuran. Karena pengukuran skinfold dikenal tidak teliti dibandingkan pengukuran BB, TB meskipun telah digunakan tehnik standar dan kalibrasi alat.

  1. 2. Systematic Error atau Bias

Systematic error berpengaruh pada akurasi atau tingkat penyimpangan pengukuran dari nilai yang sebenarnya. Biasanya systematic error disebabkan oleh bias alat. Contohnya bukti perbedaan pada pengukuran skinfold menunjukkan bahwa pada orang yang sama dengan menggunakan alat yang berbeda mungkin menyebabkan timbulnya perbedaan penekanan dari kuatnya tekanan dan luas area dari masing-masing kaliper.

Untuk mengeliminasi systematic error adalah dengan memilih desain yang sesuai dan berhati-hati dalam memilih peralatan dan metode yang digunakan.

G.  Cara Meminimalisasi Error Secara Umum

Secara garis besar usaha untuk mengatasi kesalahan pengukuran, baik dalam mengukur sebab dan akibat serta dampak dari suatu tindakan dapat dikelompokan sebagai berikut :

  1. Memilih ukuran yang sesuai dengan apa yang ingin diukur. Misalnya mengukur tinggi badan menggunakan mikrotoa, dan tidak menggunakan alat ukur lain yang bukan diperuntukkan untuk mengukur tinggi badan.
  2. Membuat prosedur baku pengukuran yang harus ditaati oleh seluruh pengumpul data. Petugas pengumpul data harus mengerti tehnik, urutan dan langkah-langkah dalam pengumpulan data.
  3. Pelatihan dan refreshing petugas. Pelatihan petugas harus dilakukan dengan sebaik-baiknya, baik ditinjau dari segi waktu maupun materi pelatihan. Materi pelatihan sebaiknya menekankan pada ketelitian pembacaan dan pencatatan hasil. Mengingat petugas akan melakukan pengukuran, maka dalam pelatihan harus dilakukan praktek terpimpin oleh petugas profesional dalam bidangnya. Apabila memungkinkan dilaksanakan pelatihan secara periodik.
  4. Kalibrasi alat ukur secara berkala. Alat timbang dan alat lainnya harus selalu ditera dalam kurun waktu tertentu. Apabila ada alat yang rusak, sebaiknya tidak digunakan lagi.
  5. Pengukuran silang antar pengamat. Kegiatan ini perlu dilakukan untuk mendapatkan presisi dan akurasi yang baik.
  6. Perekaman hasil langsung setelah pengukuran lalu hasilnya diteliti oleh orang kedua.

DAFTAR PUSTAKA

Arisman. 2004. Gizi dalam Daur Kehidupan. EGC: Jakarta.

Supariasa, I Dewa Nyoman, dkk. 2001. Penilaian Status Gizi. EGC: Jakarta.

Gibson, SR. 1990. Principless of Nutritional Assessment. Oxford University Press: New York.

Gibson, SR. 1993. Nutritional Assessment A Laboratory Manual. Oxford University Press: New York.

Famida, Umi, dkk. 2007. Handbook Nutritional Assessment. Universitas Indonesia Press: Jakarta.



{Desember 11, 2009}   Uniquely STRESS

Siapa sih yang nggak pernah ngalamin yang namanyah stress?
Yeaa pasti smua orang perna dunn…

Apa sii reaksi stress yang biasa kamu dapet?
Pusing, lelah, ga nafsu makan, ga semangat, sensi (aku banget nii, haha!), apatis, pelupa, suka nglamun, maag, ampe diare…

Yap, saat ada rangsangan dari stressor ke hipotalamus, bakal ngeluarin hormon bernama corticotropin releasing factor (CRF)
Hormon ini menstimulasi anterior untuk ngeluarin ACTH alias adrenocorticothropic hormone.
Setelah ituu kelenjar adrenal bakal terangsang bwat ngeluarin cortisol, adrenalin, & noradrenalin.

Karena si cortisol keluar, dia bakal nekan peredaran T-cell yang akibatnya system kekebalan tubuh kita menurun. Ga cuman itu aja, meningkatnya hormon yang satu itu bakal bikin banyak glikogen dipecah jadi glukosa, daann… glukosa dalam darah kita jadi tinggi (baca: hiperglikemia).

Ga cuman cortisol aja lho yang berakibat negative, tapi si adrenalin ama noradrenalin juga… Mereka berdua nii bakal ngeganggu system syaraf simpatis kita dan akibatnya detak jantung kita bakal lebih cepet, tekanan darah meninggi, dan peredaran darah kita jadi lebih cepet pula.

Stimulasi dari stressor juga bikin hipotalamus ngeluarin thyrotropin releasing factor (TRF) yang bakal memicu kelenjar thyroid untuk ngelepas hormone thyroxin. Thyroxin ituuu hormone stress jangka panjang yang ngefeknya negative banget deh. Dia bikin kita cemas, ga tenang, gampang lelah, dan asam lambung kita meningkat. Otomatiiss… kita bakal lebi gampang kena maag ama diare deh..
* ummm makanyaa kalo akuu lagii banyag pikiraann-nervous-gugupp.. bawaanya perut nii mintaa makann n kadang diaree. Kalian gituu jugaa gag? >.< *

Makanyahh…
Yuk kita sama2 me-manage stress kita
Biar hipertensi-maag-ampe diare
Biar engga sensi-ga tenang-gampang lelah…

Leave all of ur stress…
Let it go

C u all
Enjoy your colourful life

Notes: Saiia masi perlu banyag belajar. Kalo ada masukan, komen ya. Tengkyu all!



{Desember 11, 2009}   OBESEKSOLOGI

1st, I wanna say : “haduuu namanya ko mekso yaa.. OBESEKSOLOGI
Hihi…
Yaa cuman pengen bikin nama singkat aja bwat kedua topic ituu >.<

Obesitas
Kalo kamu uda bisa ngitung indeks massa tubuh kamu (IMT), obesitas masuk pada kategori IMT lebi dari 27. Kalo kegemukan ato overweight berada dalam kisaran lebih dari 25 ampe 27…

Cara itung IMT kamu : berat badan (cm) dibagi kuadrat dari tinggi badan (meter)

Ada 3 macam obesitas…
1.    Obesitas android (tipe apel) yang biasanyaa nihh pada kaum adam, lemaknya di perut n rongga perut
2.    Obesitas gynoid (tipe pear) biasanyaa terjadi di kaum hawa, lemaknya di pinggul ama paha (haio ngaku yang cewe pasti bingung kann kalo bagian ni uda mule bengkak, hehe…)
3.    Obesitas ovid (tipe kotak buah) biasanya gemuknya secara genetik n besar di semua bagian badan

Sekaraang kita maw bahas dii reproduksi nya (haioo berpikirr medis, jangan mikir ngeres, haha!)

Kaum adam dengeriin yaa…
Obesitas juga berpengaruh pada <big>gangguan ereksi</big> coz gara2 kadar kolesterol yang naek n gula darah yang naik pulaa bikin pembuluh darah semakin sempiit. Nahh, aliran darah ini ngga lancar juga ke organ yang memicu terjadinya ereksi
Karena banyaknya tumpukan lemak di sekitar testis, bikin suhunya jadi meningkat. Jadinya kadar testosteron bakal menurun n ngeganggu produktivitas sperma.

Nahh skarang giliran buat kaum hawa…
Akibat obesitas, bikin munculnya PCOS alias polycystic ovari syndrome karena ada perubahan hormon. Jadinya nih di ovarium nya ada banyak kantung telur kecil yang pematangannya terganggu.

Jadii gimana??
Yuk ngejaga indeks massa tubuh kamu dalam kisaran lebih dari 18,5 ampe 25
Jangan lupah, ga bole ngoyo diet nyaa..
Asupan tetep seimbang…
Olahraga semampu kamu
N always positiv thinking (biar ngejaga hormon stress kamu)

C u all
Learn this note. Its very important 4 your future. Haha!

Notes:
* tengkyu much bwat 2nd-group @ biomolekul nutrition class bwat inspirasi note ini >.<
* Saiia masi perlu banyag belajar. Kalo ada masukan, komen ya. Tengkyu all!>



{Desember 11, 2009}   PERJODOHAN TULANG DAN NUTRISI

Apa yang di benak kamuu waktu denger kata osteoporosis
”tulang keroposs…”
“kurang kalsium…”

Eiiitt tunggu dulu
Ternyata ngga cuman si kalsium ajja lo yang diperluin ama tulang kita
Hehe

Jadii osteoporosis ituu benernya terganggunya karakteristik dari massa tulang dan kerusakan jaringan tulang yang bakal memicu terjadinya resiko patah tulang.
Weew… ngga maw kan ampe kek gitu?

Yuukk kitaa liat dolo ada apa di dalam tulang kamuh
Tulang tu tersusun dari matriks tulang ama sel sel tulang

1. Asam folat
Nii termasuk salah satu vitamin B yang juga kofaktor enzim bwat sintesis DNA n RNA kamu n ngubah homosistein jadi metionin. Konsumsi asam folat bisa ngehindari patah tulang akibat osteoporosis coz diaa ni bakal nurunin kadar homosistein.

2. Vitamin K
Vitamin inii nerjemahin ke beberapa matriks protein tulang, diantaranya tuh bernama osteokalsin. Nah, osteokalsin yang diproduksi osteoblas ini butuh vitamin K bwat proses pematangannya. Si osteokalsin ini ngehentikan pembentukan kristal yang berlebnihan. Selain ituu vitamin K barengan ama kalsium bakal ngehambat eskkresi kalsium di urine n absorbsi kalsium di usus bakal meningkat.
Trus apaa sii sumber nya…?
*bayam, selada, brokoli, kol, kacang ijo, asparagus, apokat…*

3. vitamin A
Vitamin A bagus dikonsumsi dalam jumlah yang cukup. Kaloo ampe berlebih (kita sebut hipervitaminosis A) bakal ngehambat pembentukan tulang kamu dan memicu patah tulang. Sumber retinol (hewani) antara lain hati sapi, hati ayam, susu, keju… Kalo betakaroten tuu wortel, bayam, apricot, papaya, mangga, oatmeal, tomat…

Naah ternyata ngga cuman jodoh ama si kalsium n vitamin D sperti yg kamu biasa denger yah?
Haduu.. tulang nii sukaa selingkuh ma berbagai macam zat gizi ternyata
Wkwkwkkw….

Aiioo kitaa dukung perjodohan tulang dan nutriisi
Semoga menjadi keluarga yang mencegah terjadinyaa osteoporosis!

C u all
Jangan lupa olahraga yaa!

Notes:
* Saiia masi perlu banyag belajar. Kalo ada masukan, komen ya. Tengkyu all!



{Desember 11, 2009}   NUTRIGENOMIC DAN LEMAK (PPARs)

NUTRIGENOMIC DAN LEMAK (PPARs)

BIOMOLECULAR NUTRITION

OLEH

AGUSTIN NUR HANIFAH 0810732001
ANA NURUL AMALIYAH 0810732003
ANISA 0810732006
DESITA IKE SAGITA 0810732010
TITIS INDRAHAYU 0810732053

PROGRAM STUDI ILMU GIZI KESEHATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2009

NUTRIGENOMIC DAN LEMAK (PPARs)

A. Nutrigenomic
Genomic adalah konsep yang lebih luas dari genetik, tidak hanya gennya saja tapi juga protein dan hubungannya dengan penyakit, interaksi antar faktor-faktor diluar genetik dan faktor lingkungan (kebiasaan makan dan pola makan).
Nutrigenomik mempelajari interaksi antara komponen bioaktif dari makanan dan pengaruhnya pada pola-pola ekspresi gen. Pertama, zat-zat kimia pada makanan berpengaruh pada gen-gen manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang bisa mengganggu ekspresi gen. Kedua, dalam kondisi tertentu atau pada individu tertentu, zat-zat bioaktif makanan dapat menjadi pemicu yang menyebabkan sakit. Ketiga, sejauh mana zat makanan berpengaruh menyehatkan atau menyebabkan sakit bagi individu tergantung pada kondisi genetik masing-masing. Keempat, konsumsi makanan tertentu yang didasarkan pada pengetahuan kebutuhan gizi, status gizi, dan genotipe individu bisa diarahkan untuk mencegah, mengendalikan, atau bahkan menyembuhkan penyakit kronis.

B. PPARs (Peroxisome Proliferators Activated Receptors)
1. Definisi PPARs
Di bidang biologi molekular, Peroxisome Proliferators Activated Receptors (PPARs) merupakan kelompok nuklear receptor protein yang berfungsi sebagai faktor transcription mengatur ekspresi gen. Dalam ilmu sel, PPARs merupakan golongan sel penerima. PPARs pertama kali ditemukan pada katak jenis Xenopus, sebagai sel peka rangsangan yang mempengaruhi perkembangbiakan (perkembangan) perixom (PP= peroxisome proliferators) dalam sel. Dengan aktivasi jalur cell signal transduction, maka PPARs akan diaktifkan dan merupakan mekanisme yang berkaitan dengan munculnya PP.
PPARs memiliki fungsi dalam metabolisme lemak, glukosa homeostasis, anti inflamasi, imunoregulasi, dan diferensiasi sel. Peroxisome proliferator-Active receptors (PPARs) merupakan receptors nuklear (NRs) yang mengontrol banyak sel dan proses metabolik.

2. Tatanama PPARs
Tiga jenis PPARs telah diidentifikasi alpha, gamma, dan delta (beta):
a. α (alfa) – dalam hati, ginjal, hati, otot, dan adipose tissue.
b. β / δ (beta / delta) – dalam sel-sel otak, jaringan adipose, dan kulit.
c.  (gamma) – walaupun transcribed oleh generasi yang sama, ini PPAR melalui alternatif splicing dinyatakan dalam tiga bentuk:
c.1. 1 – dalam hampir semua jaringan, termasuk jantung, otot, usus besar, ginjal, pankreas, dan limpa.
c.2. 2 – terutama dalam jaringan adipose.
c.3. 3 – dalam macrophages, usus besar, adipose tissue.

Semua PPARs memiliki struktur sesuai dengan fungsinya masing-masing. Hal yang paling utama adalah DBD (DNA Binding Domain) dan LBD (Ligand Binding Domain). DBD mengandung 2 macam pola rantai yang mengandung zat seng (Zinc) yang dapat menjaga pengaturan rantai DNA ketika sel penerima sudah dalam keadaan aktif. LBD memiliki struktur sekunder alpha helices dan beta sheet yang sangat luas. Perpaduan antara zat ligan alami dan sintetis berfungsi menjaga LBD dalam mengaktifkan sel penerima.

3. Mekanisme PPARs
PPARs memiliki peran penting dalam formasi lemak. Regulasi aktivitas PPARs bergantung pada banyak faktor mulai dari ligan dietary sampai ko-aktivator hormon nuklear.
Aktivasi PPARs adalah melalui ikatan dengan ligan sehingga membentuk suatu kompleks dengan protein yaitu retinoid X receptor (RXR), kemudian mengikat peroxisome proliferative response element (PPRE) dan selanjutnya melakukan perannya dalam regulasi transkripsi gen, metabolisme asam lemak, glukosa dan insulin homeostasis, dan fungsi macrophage.

Bagian yang penting dalam memahami hubungan peradangan-metabolisme-berat badan adalah sekelompok reseptor yang banyak terdapat pada permukaan nukleus sel-sel lemak dan sel-sel organ hati, yang disebut PPARs (alpha, beta, gamma). PPARs berkomunikasi dengan DNA untuk melajukan atau memperlambat metabolisme. PPARs juga mengendalikan peradangan. Sejumlah makanan tertentu (terutama lemak-lemak tertentu) mengaktifkan reseptor PPARs dan sejumlah makanan lain memadamkannya. Salah satu molekul peradangan yang diproduksi sel-sel lemak adalah pada saat mengkonsumsi terlalu banyak gula, lemak jenuh atau terlalu banyak kalori disebut tumor necrosis factor alpha (TNF-alpha). Molekul ini mengikat dan membendung PPARs di dalam sel. Molekul peradangan ini memperlambat metabolisme, menjadikan tubuh tahan terhadap efek-efek insulin, dan mengakibatkan penambahan berat badan.
Obesitas selalu menjadi masalah dalam kelebihan simpanan lemak di jaringan adipose, termasuk liver dan otot skeletal. Hal ini mungkin dapat menjadi petunjuk resistensi insulin dan menstimulasi inflamasi, seperti pada steatohepatitis. Obesitas akan merubah morfologi dan komposisi jaringan adipose, dan selanjutnya mempengaruhi produksi dan sekresi protein. Beberapa sekresi protein termasuk mediator proinflamasi diproduksi oleh macrophage yang residen di dalam jaringan adipose. Banyak mekanisme molekular dengan implikasi obesitas dan inflamasi dimodulasi oleh PPARs. PPARs merupakan ligan-faktor transkripsi diaktifkan yang terlibat dalam regulasi proses biologik, termasuk metabolisme lemak dan glukosa serta semua energi homeostasis. PPARs juga mengatur respon inflammatory, dengan mengurangi inflamasi.
Dalam ekspresi gen, PPARs dengan retinoic X receptors (RXR) akan merubah transkripsi target gen setelah berikatan dengan PPREs. Pada aktivasi oleh asam lemak dan obat-obatan, kontrol PPARs terhadap ekspresi gen. PPAR dengan retinoic x receptor (RXR) dan mengubah transkripsi dari gen target setelah berikatan dengan system respon atau PPREs, terdiri dari pengulangan dari nuclear receptor hexameric DNA recognition motif (PuGGTCA) oleh 1 nucleotide (DR-1). Ketika diaktivasi oleh asam lemak dan obat-obatan yang memberikan efek pada metabolism lemak, PPARs akan mengontrol ekspresi gen dalam implikasinya di intra dan extracellu
Pengaktifan yang dilakukan oleh asam lemak dan obat yang mempengaruhi metabolism lemak, PPARS mengendalikan gen exspress mengimplikasi intracelluler dan extracellular metabolism lemak, yang melibatkan peroxisomal beta-oxidation. Sebagian PPARS memberikan effek dalam menginduksi serat dan asam lemak pada HDL dengan meregulasi transkripsi dari apolipoproteins HDL, apoA-I dan apoA-II.
Hypotriglycerida serat dan asam lemak juga mempengaruhi PPARs dalam :
1) peningkatan hidrolisis plasma trigliserida yang berkaitan dengan induksi LPL dan pelepasan apoC-III
2) merangsang pengambilan asam lemak selular dan mengkonversikanya ke acyl-CoA derivative yang berkaitan dengan exspression gen untuk transporsport asam lemak dan acyl-CoA synthetase
3) Peningkatan peroxisomaldan oksidasi β mitochondria dan
4) Penurunan sintesa asam lemak dan TG dan penurunan produksi VLDL.
Oleh karena itu keduanya meningkatkan katabolisme partikel yang kaya TG dan menurunkan sekresi VLDL yang mengakibatkan hypolipidemia karena serat dan asam lemak. Sehingga PPARs muncul untuk mempengaruhi proses differensiasi karena aktifasi dar PPARs  yang memicu differensiasi adiposity dan menstimulasi ekspresi gen pada adipogenesis. Hal ini berarti PPARs merupakan kunci translasi zat gizi dan menstimulasi farmakologi dalam perubahan ekspression gen yang melalui jalur differensiasi.
2.3 Sumber Bahan Makanan PPARs
Lemak Omega 3 (EPA dan DHA) yang terdapat pada minyak ikan. OEA (Oleoylethanolamide) yang biasa terdapat pada mentega kakao, cokelat hitam, dan biji cokelat. Biji kakao yang murni, non olahan, dan dipanggang kaya akan polyphenol dan OES, lemak khusus yang akan membantu dalam membakar lemak (Mark Hyman, M.D. Ultra Metabolisme).
Ikan tuna baik untuk mencegah kanker payudara. Hal tersebut disebabkan kandungan omega-3 pada tuna dapat menghambat enzim proinflammatory yang disebut cyclooxygenase 2 (COX 2), enzim pendukung terjadinya kanker payudara.
Omega-3 dapat mengaktifkan reseptor di membran sel yang disebut peroxisome proliferator-activated receptors (PPARs), yang bisa menangkap aktivitas sel penyebab kanker. Selain itu, omega-3 juga dapat memperbaiki DNA.

Cryptomonadales adalah spesies Chlorella sorokiniana yang dikembangbiakkan oleh Dr, Shun-Te Wang, yang diambil dari alga bersel tunggal dan berkembang di kolam air tawar yang bebas polusi dan menyerap O2 dan energi matahari. Setiap 24 jam sel tunggal tersebut mempunyai faktor pertumbuhan membelah diri menjadi 4 (empat) sel (Cell Growing Factor disingkat CGF).
Cryptomonadales merupakan agonist PPARs yang mengandung element-element berupa protein, phycocianin, chlorophyll, RNA, DNA, multivitamin dan mineral, dan molekul PPARs.
Menurut para peneliti, element-element dan molekul PPARs yang terkandung dalam Cryptomonadales dapat berperan sebagai antivirus, antioksidan, antikanker, peremajaan sel, fungsi detox, anti radang menghambat infeksi entovirus, virus influenza, virus herpes papio, mengendalikan metabolisme lemak, homeostatis-glucosa, anti inflamasi, immunoregulator dan diferensiasi sel kanker.

DAFTAR PUSTAKA

http://cyberwoman.cbn.net.id/cbprtl/common/ptofriend.aspx?x=Nutrition&y=CyberMed%7C0%7C0%7C6%7C403 Cerdas Bersama Ikan Tuna Nutrition Thu, 28 Jun 2007. SENIOR, gaya hidup sehat)

(The Peroxisome Proliferator-Activated Receptor (PPAR) Resource. http://ppar.cas.psu.edu/pparrfront.htm. 2006. Jack Vanden Heuvel, Penn State University, Center for Molecular Toxicology) Ih-Jen Su, M.D., Ph.D.

Distinguished Investigator and Director Division of Clinical Research http://indocrypto.com/cryptomonadales/content/view/21/38/



{Desember 8, 2009}   Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!



et cetera